Rabu, 10 Februari 2010

Memang boros..tapi?

"500 Meter lagi Pom Bensin. Isi Bensin? Honda New City belum perlu" Iklan itu adalah bunyi sebuah iklan yang akan kita temui bila kita memasuki kawasan puncak. Dari bunyi iklannya,terlihat sekali bahwa Honda sangat provokatif dan gencar dalam memasarkan produk New City nya yang mereka klaim bisa menyentuh angka 23kpl pada jalan bebas hambatan. Seakan tidak mau kalah dengan Honda,Toyota pun membuat sebuah slogan untuk produk andalannya,Toyota Vios yang berbunyi ; "Vios. The Fuel Saver and Speed Maker". Seakan akan tak mau kalah dengan para pemain pasar bensin,raja diesel Indonesia,Isuzu pun mengeluarkan gimmick yang tak kalah menarik, "Pilih Panther,Pinter.."

Terlihat dari slogan slogan tersebut,bahwa gimmick atau bahan promosi terkini dari para produsen mobil adalah masalah keiritan bahan bakar produknya. Memang,krisis minyak yang menyebabkan harga minyak melambung tinggi sudah pasti menjadi pemicu utama para produsen mobil ini dalam menciptakan sebuah produk yang irit bahan bakar,entah bensin atau diesel.

Apa sebenarnya pandangan orang tentang sebuah mesin yang boros? Saya yakin hampir semua orang termasuk anda akan menjawab bahwa mesin yang boros adalah mesin yang tidak canggih,kuno,dan ber-cc besar. Memang fair anggapan orang bahwa mesin yang boros adalah mesin yang disebutkan pada kriteria di atas,tetapi pernahkah anda membandingkan tingkat efisiensi sebuah mobil dengan hal hal lain seperti dimensi mobil, ukuran ban, dan kondisi jalan?Inilah yang sering kita lupakan. Sebagai contoh,kita membandingkan sebuah KIA Carnival yang berbobot 2,2 ton dengan sebuah Isuzu Panther yang hanya berbobot 1,3 ton dalam hal konsumsi bahan bakar. Jelas itu bukanlah sebuah perbandingan yang adil walaupun mungkin keduanya memakai mesin diesel.

Seperti saya sebutkan di atas,salah satu point penting dalam pembanding tingkat efisiensi mesin adalah ukuran body sebuah mobil. Sebagai contoh, Toyota Yaris. Saya adalah pengguna Toyota Yaris yang hanya berbobot 1 ton 18 kilogram. Dengan toyota yaris,saya bisa mendapatkan konsumsi bahan bakar sebesar 15kpl(kilometer per liter) di jalan bebas hambatan. Figur 15kpl bukanlah angka yang sulit untuk sebuah mobil seukuran yaris dan memiliki berbagai macam teknologi untuk pengirit bahan bakar - Sebut saja vvt-i,DFCO(Decelleration Fuel Cut Off),TBW(Throttle By-Wire),dsb. Lain waktu,saya mengendarai sebuah Toyota Camry yang ber-cc 2.400 dengan bobot kira kira dua ton dalam perjalanan Jakarta - Bandung. Dalam perjalanan itu saya berhasil mendapatkan angka 15kpl lebih. Angka yang sama dengan yaris bukan? Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa teknologi mesin Camry dengan perbandingan rasio gigi akhir yang lebih kecil dari Yaris bisa mendapatkan tingkat efisiensi lebih tinggi.

Yang paling sering saya amati bagaimana kebanyakan orang men-judge sebuah mesin mobil ialah dengan melihat cc-nya dan berkata , "Oh,mobil ini boros" atau "Oh jangan pakai ini,cc nya besar,pasti boros". Yang ingin saya tanyakan ialah,apakah kita melihat tingkat efisiensi sebuah mesin yang ber-cc besar dengan melihat faktor lainnya terlebih dahulu? Ambil contoh kijang Innova (Memang Innova favorit saya untuk dijadikan contoh). Kijang Innova 2.0 memiliki figur konsumsi bahan bakar rata rata dalam kota 8kpl. Lalu orang membandingkan dengan saudara seperguruannya,Toyota Avanza 1.5 yang memiliki konsumsi rata rata dalam kota 10kpl. Jelas ini bukanlah perbandingan yang fair. Avanza memiliki bobot yang jauh lebih ringan dari Kijang Innova dan juga memiliki kapasitas mesin yang lebih kecil dari Kijang Innova. Tentu hal ini sangat berpengaruh dalam konsumsi bahan bakar. Coba anda bayangkan bila sebuah mesin Toyota Avanza dipasangkan dengan body Kijang Innova. Saya yakin,figur konsumsi lebih baik dari mesin Kijang Innova 2.0 sulit untuk tercapai. Atau bagaimana jika saya balik. Mesin Kijang Innova pada Toyota Avanza? Saya berani jamin bahwa figur konsumsi bahan bakar akan sama atau bahkan lebih baik dari mesin 1.5oocc,dengan catatan semua memakai teknik pengendaraan yang sama.

Memang,kita sedang dihadapkan pada naiknya harga minyak dunia. Era 90-an,harga bahan bakar sekelas Pertamax dengan RON92 dihargai dengan hanya harga Rp2.200. Bandingkan dengan harga sekarang yang mencapai Rp6450. Sudah pasti,menjadi insting alami kita untuk melakukan penghematan,salah satunya dengan membeli sebuah produk yang kita anggap memiliki konsumsi bahan bakar irit. Tapi sekali lagi,jangan pernah membandingkan hanya dari satu sisi saja. Tetapi,bandingkanlah dengan sisi sisi lain seperti kapasitas mobil (yang berpengaruh langsung pada bobot kendaraan). Jangan pernah membandingkan mobil anda yang City car sekelas Hyundai Atoz atau KIA Picanto dengan mobil anda yang sekelas MPV seperti Innova,Carnival,Grand Livina,atau merek lain(Anda boleh bangga bila MPV anda bisa lebih irit dari City car).Jadi bila suatu hari kita menemui orang yang mengajak kita untuk berargumentasi bahwa mobil MPV atau mobil lain yang kita miliki boros,kita bisa menjawabnya dengan halus dengan berkata, "Memang boros...tapi...."
Iya kan?


Rizky Adhi Baskara
0906551400
Mechanical Engineering,International Program
Faculty of Engineering,University of Indonesia

3 komentar:

  1. ini ulasan yg pas, sy penggemar big mpv setuju...banget.

    BalasHapus
  2. bandingkan juga dengan pendapatan, bila pakai mobil yang boros bbm, tapi tiap pergi menghasilkan Rp. 5 jt, dirasa lebih hemat dibandingkan pakai mobil yang irit tapi tiap pergi tidak menghasilkan uang, mengantar istri belanja misalnya...

    BalasHapus
  3. mungkin sebaiknya mobil boros bahan bakar dipakai seminggu sekali atau dihari libur saja bagi yang berpenghasilan cekak , berhubung kalau dipakai harian bisa menguras ongkos bensin dan biasanya ga mau berganti model yang irit karena kendaraan boros modelnya lebih menarik ( menurut selera ). jadi solusinya kudu jarang pakai = irit .

    BalasHapus